19. Nov, 2021

Sejarah Jam Gadang

Semngat pagi travelmate, banyk yang mengatakan kota bukittinggi merupakan kota sejarah ets bukan cuma itu bukittinggi juga di kenal sebagai kota wisata. Jam gadang merupakan iconnya kota wisata bukittinggi, yang kita sama-sama tau jam gadang merupakan hadiah yang di berikan oleh Ratu belanda Wilhelmina yang di rancang oleh orang minangkabau asli yang di kenal Yazid Rajo Mangkoto dengan ukuran bangunan jam gadang 6,5 m x 26 m.

Untuk proses pembangunan jam gadang memakan waktu 1 tahun dimana jam gadang ini di ajukan oleh bendahara benteng van de cock. dengan memakan biaya yang cukup tinggi di masa itu sekitar 3000 golden. wahhh bangunan yang mahal ya dengan 3000 golden di masa itu berapaan di masa sekarang aduuhh admin bisa geleng-geleng liat nominalnya.

Puncak atau bagian atapnya telang mengalami 3 kali pergantian, sesuai masa priode pemerintahan yang berlaku di saat itu, untuk pertama kalinya karna masa pemimpinan hindia belanda dan hadiah dari ratu belanda jam gadang berbentuk bulat dan terdapat patung ayam jantan di puncak atap hal ini memiliki arti agar penduduk dapat bangun pagi, istilah kerennya sekarang alaram bagi kita.

Di masa kependudukan jepang atap jam gadang di ganti berbentuk atap pagoda khas chines. Namun setelah indonesia merdeka di tahun 1945 atap jam gadang di ganti menjadi gonjong rumah jam gadang khas rumah gadang urang minang.

Untuk mesin jam gadang hanya ada dua di dunia yanng jennisnya sama, yang pertama di big ban londen dan jam gadang bukittinggi. Jadi cukup bangga menjadi masyarakat minangkabau memiliki keunggulan yang bisa di perkenalkan oleh wisatawan.

Jam gadang sedikit perbedaan di angka romawi, ini yang menjadikan jam gadang memiliki ciri khasnya sendiri, dan setiap di jam tepat selalu membunyikan lonceng, nah ini yang menjadi salah satu alasan di masa hindia belanda meletakkan patung ayam jantan di puncak atapnya. 

Wahh ternyata banyak juga history yang dapat di lihat bukti perjalanan sejarah yang ada di kota wisata ini. Jadi buat travel mate dapat mengunjungi jam gadang kapan saja kecuali ada penutupan dari pihak dinas dan pengelola destinasi wisata.

Atau dapat juga mengunnjungi dengan histori yang di samapaikan oleh guide lokal khas Duta Pesona Wisata.