18. Agt, 2022

Bandar Udara Internasional Minangkabau pintu gerbang menuju kota padang sumatera barat

Bandara internasional minangkabau yang di singkat dengan BIM atau dalam bahasa inggris minangkabau international airport adalah bandara bertaraf internasional utama di provinsi sumatera barat yang melayani penerbangan untuk wilayah palapa.bandara ini berjarak sekitar 23 km dari pusat kota padang  dan terletak di wilayah ketaping,kecamatan batang anai,kabupaten padang pariaman,sumatera barat.

Bandara internasional  minangkabau mulai di bangun pada tahun 2002 dan di operasikan secara penuh pada 22 juli 2005 menggantikan Bandar udara tabing.BIM merupakan bandara satu – satunya di dunia yang memakai nama etnis.pada tahun 2006 Bandar udara ini di tetapkan sebagai tempat embarkasi dan debarkasi haji untuk wilayah provinsi sumatera barat,Bengkulu dan sebagian jambi.sebelumnya BIM hanya di buka hingga pukul 21.00 WIB,tapi pada tanggal 1 januari 2012 jam operasional BIM di perpanjang hingga pulul 00.00 oleh PT Angkasa Pura II.

Maskapai utama pada Bandar udara ini yaitu CITILINK,GARUDA INDONESIA Dan LION AIR.

Pembangunan

Bandar Udara Internasional Minangkabau dibangun sebagai pengganti Bandar Udara Tabing yang sudah tidak lagi memenuhi persyaratan dari segi keselamatan penerbangan setelah 34 tahun lamanya digunakan. Pembangunan bandara ini mulai dilakukan pada tahun 2001 dengan menghabiskan biaya sekitar 9,4 miliar Yen, dengan 10% di antaranya (sekitar 97,6 miliar Rupiah) merupakan pinjaman lunak dari Japan Bank International Coorporation (JICB). Konstruksinya melibatkan kontraktor Shimizu dan Marubeni J.O. dari Jepang, dan Adhi Karya dari Indonesia.

Bandar Udara Internasional Minangkabau berdiri di atas tanah seluas 4,27 km² dengan landasan pacu sepanjang 3.000 meter dengan lebar 45 meter. Penerbangan domestik dan internasional dilayani oleh terminal seluas 20.568 m², yang berkapasitas sekitar 2,3 juta penumpang setiap tahunnya. Pada tahun 2017, bandara ini akan diperluas dua tahap hingga mencapai 49.000 m². Dengan pengembangan itu nantinya akan bisa menampung sekitar 5,9 juta penumpang per tahun.

Bandar udara ini adalah bandara kedua di Indonesia setelah Soekarno-Hatta yang pembangunannya dilakukan dari awal. Rencana induk pembangunan bandara ini dilakukan dalam tiga tahap, tahap keduanya dimulai pada tahun 2010. Setelah semua tahap selesai pengerjaannya, panjang landasan bandara ini akan diperpanjang menjadi 3.600 meter, yang juga dilengkapi dengan landasan penghubung (taxiway) paralel di sepanjang landasan.

Transfortasi darat

Bandar Udara Internasional Minangkabau dapat diakses baik menggunakan kendaraan pribadi, maupun kendaraan umum seperti bus dan taksi yang beroperasi setiap hari dari Kota Padang dan kota-kota lain di sekitarnya. Selama tahun 2015, jumlah penumpang di bandara ini telah mencapai 3,1 juta penumpang.Sejalan dengan perkembangan bandara, pemerintah daerah telah membangun jalan layang di perempatan jalan masuk menuju bandara, yang disusul dengan pelebaran ruas jalan Tabing—Duku sepanjang 10 km yang merupakan bagian dari ruas jalan Padang—Bukittingg.

Maskapai dan tujuan

Sejumlah penerbangan yang dilayani bandara ini sama seperti bandara sebelumnya, yaitu Bandar Udara Tabing. Untuk penerbangan domestik, antara lain dengan JakartaSurabayaBatamMedanBengkuluSungaipenuhSiporaYogyakartaPalembangPekanbaruJambiGunung SitoliSurabaya, dan Bandung. Sementara untuk penerbangan internasional yaitu dengan Kuala Lumpur. Bandar Udara Internasional Minangkabau dapat menampung Pesawat Airbus A300Airbus A319Airbus A320Airbus A320neoAirbus A330Airbus A330neoAirbus A340Airbus A350ATR 72Boeing 747Boeing 777Boeing 787 Dreamliner, dan McDonnell Douglas MD-11. Kelengkapan fasilitas yang jauh berbeda dengan Bandar Udara Tabing, terbukti menggairahkan aktivitas penerbangan di bandara ini. Hingga saat ini tercatat sebanyak lima maskapai penerbangan nasional dan satu maskapai penerbangan asing yang telah beroperasi di bandara ini, antara lain adalah sebagai berikut.

Penerbangan ke Singapura yang dilayani oleh Tigerair Mandala ditutup setelah beberapa bulan beroperasi karena rendahnya tingkat isian penumpang.